JAKARTA, KOMPAS.com – Bank Indonesia (BI) mencatat posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia meningkat pada Mei 2026. Demikian juga dari sisi pertumbuhannya sedikit lebih tinggi dari bulan sebelumnya. BI mencatat posisi ULN RI pada Mei 2026 sebesar 444,4 miliar dollar AS atau setara Rp 8.043,64 triliun pada Mei 2026. Angka tersebut meningkat jika dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 439,8 miliar dollar AS. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, secara tahunan pertumbuhan ULN Indonesia pada Mei 2026 mencapai 2,1 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada April 2026 yang sebesar 2 persen. Perkembangan tersebut dipengaruhi pertumbuhan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan ULN swasta yang lebih rendah.
“Posisi Utang Luar Negeri Indonesia pada Mei 2026 tetap terjaga,” ujar Ramdan dalam keterangannya, Rabu (17/6/2026). Secara lebih perinci, posisi ULN Indonesia dibentuk ULN pemerintah sebesar 217,3 miliar dollar AS.
Meski secara nominal meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, namun pertumbuhan ULN pemerintah yang sebesar 3,7 persen, stagnan dibandingkan April 2026. “Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional, yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang terjaga, di tengah pembayaran neto pinjaman luar negeri pemerintah yang jatuh tempo,” kata Denny. Adapun utang luar negeri pemerintah tetap didominasi utang tenor jangka panjang. Denny bilang, hampir seluruh ULN pemerintah merupakan utang jangka panjang ULN pemerintah dimanfaatkan untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22 persen dari total ULN pemerintah, administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,6 persen, jasa pendidikan sebesar 16,2 persen, konstruksi sebesar 11,5 persen, serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,5 persen. “Sebagai salah satu komponen dalam instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemanfaatan ULN terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif dengan tetap memperhatikan aspek sustainabilitas pengelolaan ULN,” ucap Denny. Sementara itu, nilai utang luar negeri swasta mencapai 195,9 miliar dollar AS sampai dengan Mei 2026 atau lebih rendah dari posisi bulan sebelumnya yang sebesar 193,2 miliar dollar AS. Nilai ini mengalami kontraksi pertumbuhan menjadi 0,1 persen (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya yang terkontraksi 0,7 persen (yoy). “Perkembangan tersebut terutama didorong oleh ULN kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) yang secara tahunan mencatatkan kontraksi sebesar 0,8 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan kontraksi pada April 2026 sebesar 5 persen (yoy),” kata dia. Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 79,9 persen terhadap total ULN swasta. ULN swasta tetap didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 74,9 persen terhadap total ULN swasta. Dengan perkembangan tersebut, bank sentral menilai struktur utang luar negeri Indonesia tetap sehat dan didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian.
Hal ini terefleksikan dari rasio utang luar negeri Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) yang terjaga sebesar 29,9 persen pada mei 2026. “Serta didominasi ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 83,9 persen dari total ULN,” tuturnya.
Membership: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6








Leave a Reply